Mengapa Tanah, bagaimana dengan aset lain?
Tanpa disadari, portfolio saya sangat terkonsentrasi dan condong ke tanah.…
Selama ini cara orang berpikir tentang investasi hampir selalu tentang pertumbuhan. Bagaimana aset bisa naik, bagaimana return bisa maksimal. Tapi ada satu hal yang menurut saya justru lebih fundamental dari itu: bagaimana kita tidak collapse ketika hal buruk terjadi tapi tetap memiliki cukup sumber peluru untuk tetap bisa agresif.
Strategi ini saya sebut sebagai Framework Tiering Aset. Contoh Tiering aset tersebut adalah sebagai berikut :
Tier 0 adalah income. Bisa active, bisa passive, idealnya keduanya. Ini adalah sumber dari segalanya. Kalau tier 0 mengalir deras, semua berjalan baik. Sisa tetesan dari tier 0 inilah yang mengisi lapisan-lapisan di bawahnya. Dan sebaiknya, sumber tier 0 lebih dari satu. Semakin banyak, semakin baik. Satu sumber saja terlalu rapuh.
Tier 1 adalah fondasi. Nilainya sebesar 6-12x pengeluaran bulanan, disimpan di instrumen yang likuid dan volatilitasnya rendah. Saya menggunakan obligasi negara untuk ini. Fungsinya bukan untuk tumbuh besar, tapi untuk bertahan. Ini lapisan pertahanan pertama.
Tier 2 horizon waktunya 5-10 tahun. Volatilitasnya lebih tinggi, tapi gainnya juga lebih tinggi. Contohnya saham. Tier ini bukan hanya tentang investasi jangka menengah — tapi juga berfungsi sebagai backup kalau tier 1 tergerus.
Tier 3 adalah aset lintas generasi. Saya pribadi memilih tanah di posisi yang strategis. Ini lapisan pertahanan terakhir, sekaligus yang paling powerful jika dikelola dengan benar.
Terus gaya mainnya gimana? Kalau tier 0 melemah — entah karena bisnis turun, atau situasi lain yang tidak kita inginkan — tier berikutnya harus siap menjadi kickstart (pendorong). Bukan untuk menggantikan fungsi tier 0, tapi untuk memberikan stimulus agar tier 0 bisa berjalan deras kembali.
Tapi, jika tier 0 memiliki banyak kaki, harusnya tier selanjutnya selalu aman bahkan tidak pernah tersentuh.
Dengan framework diatas, kita harus menyadari bahwa fungsi dari semua aset itu adalah menciptakan cashflow. Ada hal yang menurut saya kurang tepat tentang perspective warisan yang tidak dikembangkan secara maksimal. Sering kali warisan menjadi kebanggaan dengan nilai ekonomis yang sebetulnya hampir kosong dan dipamerkan sebagai aset yang hampir tanpa arti. Padahal berdasarkan framework diatas, aset yang tidak produktif adalah aset yang gagal menjalankan fungsinya.
Jadi intinya, semua tier pada akhirnya harus bisa kembali ke satu tujuan: cash flow (tier 0). Entah itu active income atau passive income. Tier itu sendiri bukan merupakan tujuan akhir — hanya reservoir yang siap dideploy kapan saja jika dibutuhkan.
Terus bagaimana dengan sekolah anak atau biaya lain?
Pernah kepikir gak, apa konglomerat itu pernah mikir nabung untuk sekolah anak atau malah mereka membangun tier 0 nya terus?
Jika tier 0 sebegitu powerfulnya, bukankah biaya sekolah itu menjadi negligible.
Pertanyaannya, kenapa kita tidak berpikir seperti mereka juga?
Discussion about this post