Tiering Aset
Selama ini cara orang berpikir tentang investasi hampir selalu tentang…
Warisan, sering kali menjadi sebuah momok dalam kehidupan banyak masyarakat terutama di Bali. Sangat mengerikan untuk dibahas, karena sangat sensitif. Banyak keluarga yang pada akhirnya tercerai berai karena warisan ini. Ada beberapa extreme yang terjadi di masyarakat, extreme yang menjual keseluruhan warisannya tanpa sisa, dan extreme yang tidak menjual sama sekali. Sangat sedikit keluarga yang memanfaatkan warisan sampai maksimal.
Saya meyakini tujuan orang tua atau leluhur kami memberikan warisan untuk mempermudah kehidupan saya kedepan. Dan juga tentu mereka berharap saya bisa meneruskan estafet dengan memberikan kesempatan yang sama ke keturunan berikutnya. Tidak berhenti hanya di-saya (misalnya dengan menjual keseluruhan warisan, atau dengan bodoh kehilangan aset tersebut)
Hal ini yang seharusnya menjadi pola berpikir. Warisan itu seharusnya mempermudah hidup kedepan-hari bagi keturunan kita. Sesuai dengan tulisan saya sebelumnya yaitu Tiering Aset, warisan harusnya ada di tier 3, yang sebetulnya adalah aset lintas generasi (atau Generational Wealth building). Aset itu bisa berupa tanah, emas, atau hal yang lainnya.
Saya akan berfokus pada aset yang saya mayoritas saya miliki, yaitu Tanah. Saya juga sudah pernah menulis Tentang hal ini juga. Bahwa dimensi tanah itu tidak cuman untuk ditempati. Tapi bisa menjadi jaminan juga. Hal ini sebetulnya bisa menjadi kickstart (atau pendorong) agar cashflow bisa berputar (tier 0) sesuai dari tulisan tiering aset saya sebelumnya.
Nah pertanyaan terpenting yang juga akan menjadi catatan terpenting untuk saya adalah, kapan seharusnya warisan itu diberikan?
Menurut saya, warisan itu harus diberikan sedini mungkin kepada anak, saat mereka sudah mampu untuk berpikir rasional. Sebaiknya diusia mid 20 atau early 30 an. Jika anak diberikan warisan diusia lebih dari itu, misalnya 40 – 50 tahunan, anak tidak akan mendapatkan hasil secara maksimal untuk pendelegasian kepemilikan warisan ini.
Anak di usia pertengahan 20 dan di awal 30 pasti memiliki energi besar, eksplorasi tinggi dibandingkan dengan orang dengan usia 40-50 tahunan. Energi ini jika dibarengi dengan kekuatan penyokong (aset warisan ini), dan guidance dari orang tua, mereka bisa melaju jauh lebih cepat. Orang tua juga masih sehat, masih bisa ikut berpartisipasi pasif dalam proses pengembangan anak. Bayangkan jika diberikan diusia 50 tahun, saat badan sudah encok semua, explorasi minimal. Dan orang tua mungkin sudah tidak ada lagi, atau kalaupun ada, sudah sangat tua, dan tidak bisa mensupervisi anak lagi. kemungkinan aset itu tidak ber-impact pada kehidupan nya sedemikian signifikan.
Selain itu, dengan mendelegasikan (membagi penggunaannya) warisan ini diusia anak lebih kecil, akan menjamin jika warisan tersebut tidak bermasalah saat orang tua sudah meninggal, dan orang tua juga bisa memberikan tuntunan kepada anak (sesuai pengalamannya tentunya) bagaimana seharusnya warisan ini dihandle dengan benar dan bijak. Kemungkinan anak sukses akan menjadi berlipat ganda dibanding anak melakukannya sendiri.
Jika warisan itu baru diturunkan di usia 50, setelah orang tua dari pemiliki warisan sudah meninggal, ada kemungkinan anak-anak yang diteruskan akan berkonflik karena anak2 tidak tau warisan itu seherusnya diberikan ke siapa. Selain itu, anak – anak bisa kaget karena tiba – tiba memiliki aset banyak walaupun berusia sudah tua, ini yang bisa menjadi backlash dan orang bisa jadi menggunakan (baca menjual) aset tersebut tanpa guard rail (penjagaan dari orang tua)
Dengan demikian, orang tua memiliki tugas tambahan sebelum handover aset warisan tersebut keanaknya, yaitu financial literacy yang mumpuni, guard rail (misalnya tidak boleh dijual tanpa persetujuan keluarga, atau hanya boleh digunakan sebagai leverage untuk kegiatan produktif) dan guidance yang bijaksana yang memiliki balance antara resiko dan peluang.
Nah dengan strategi seperti yang saya sebutkan diatas, Warisan bisa mencapai fungsi maksimal, Generational Wealth yang diidamkan bisa tercapai. Warisan sebagai alat pelontar tidak hanya untuk kehidupan satu generasi, tapi semua generasi bisa terangkat sampai ke generasi selanjutnya juga.
Discussion about this post